Pudarnya Wajah Pahlawan di Ruang Kelas: Modernisasi Sekolah Mengancam Identitas Generasi Muda
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Memasuki ruang kelas modern saat ini menyuguhkan pemandangan yang jauh berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu. Dinding ruang belajar yang dahulu kerap diapit oleh bingkai foto Presiden, Wakil Presiden, serta lambang Garuda Pancasila, kini kian tampak polos atau mendadak riuh oleh layar perangkat digital.
Deretan bingkai foto pahlawan nasional yang dahulu menjadi “penjaga setia” di dinding kelas pun mulai pupus. Wajah-wajah penuh ketegasan seperti Pangeran Diponegoro, RA Kartini, hingga Jenderal Sudirman seolah tergeser oleh laju modernisasi. Tempat mereka kini tergantikan oleh proyektor pintar, papan informasi berestetika modern, atau sengaja dikosongkan demi mengejar gaya arsitektur kelas yang minimalis.
Fenomena ini mendapat sorotan tajam dari Praktisi Seni, Pendidik, dan Budaya, Nonot S Mono (Gus Nonot). Menurutnya, ketiadaan visual pahlawan membawa pergeseran serius pada atmosfer psikologis ruang belajar tempat siswa beraktivitas saban hari.

“Foto-foto pahlawan di masa lalu itu bukan sekadar hiasan dinding penangkap debu. Kehadiran mereka berfungsi sebagai jangkar visual yang terus-menerus mengingatkan siswa tentang identitas, perjuangan, dan harga sebuah kemerdekaan,” tegas Gus Nonot saat memberikan pandangannya, Selasa (1/9/2026).
Gus Nonot menambahkan, ketika ruang fisik kelas kehilangan simbol-simbol historis ini, ada ruang kosong dalam proses internalisasi nilai patriotisme pada diri anak didik.
“Generasi muda kehilangan kesempatan untuk melakukan dialog visual harian dengan masa lalu mereka. Hal ini membuat sejarah terasa sebagai materi hafalan di buku teks belaka, bukan sebagai fondasi tempat mereka berdiri hari ini,” lanjutnya.
Ia memaparkan beberapa dampak mengkhawatirkan akibat hilangnya stimulus visual pahlawan di lingkungan sekolah:
Kehilangan Anchor Visual: Siswa tidak lagi mendapatkan stimulus visual harian yang menanamkan rasa nasionalisme secara bawah sadar.
Melebarnya Jarak Historis: Sejarah menjadi konsep abstrak yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari karena ketiadaan figur di lingkungan terdekat.
Pergeseran Figur Idola: Ruang kosong figur pahlawan riil berpotensi digantikan sepenuhnya oleh figur populer media sosial yang belum tentu membawa nilai kebangsaan.
Pengikisan Nilai Karakter: Teladan nyata seperti keberanian, ketangguhan, dan pengorbanan pahlawan menjadi sulit diinternalisasi dalam pembentukan akhlak siswa.

Gus Nonot menegaskan bahwa mengingat pahlawan sangat memperkuat identitas bangsa, menjaga persatuan, dan mendorong pelajar memberikan kontribusi nyata. Namun, ia menyadari bahwa arus modernisasi tidak bisa ditolak begitu saja.
“Modernisasi fasilitas tentu positif, tetapi jangan sampai mengikis akar sejarah. Kita bisa ambil jalan tengah melalui reintegrasi estetik, misalnya mengemas foto pahlawan dalam format infografis minimalis modern yang pas dengan arsitektur kelas masa kini,” saran Gus Nonot.
Selain pembaruan desain visual, sekolah juga disarankan menyediakan Sudut Literasi Sejarah yang berganti profil secara berkala, serta melakukan digitalisasi nilai dengan memanfaatkan proyektor kelas untuk menampilkan kutipan dan wajah pahlawan sebelum jam pelajaran dimulai. (red).