Perdana Tampil MC Bahasa Inggris di Pelatihan Public Speaking, Salma: “Saya Bangga”
Sdoarjo (kalamnusantara.com) – “Saya bangga sih, soalnya saya kan belajar semalam doang. Terus udah lancar, alhamdulillah bisa menyesuaikan intonasinya. Terus seru bahasa Inggris, soalnya kan kemarin nyoba jadi MC acara kelulusan kelas 9 itu pakai bahasa Arab. Jadi di sini seru, terus bangga juga,” kata Salma, salah satu peserta pelatihan public speaking di Pondok Pesantren Darul Muttaqin, Bendo Grogol, Tulangan, Sidoarjo, Rabu (9/9/2026).
Bagi Salma, ada perbedaan tersendiri saat membawakan acara dengan berbagai bahasa. Menurutnya, MC berbahasa Arab lebih menekankan ketepatan makhraj, bahasa Indonesia berfokus pada intonasi yang formal sesuai acara, sedangkan MC bahasa Inggris sangat menuntut permainan intonasi serta ekspresi.
Santriwati bernama lengkap Saidatus Salamah (13) asal Dusun Balongsari, Desa Ploso, Wonoayu, ini menjadi salah satu dari puluhan santri dari tingkatan MI/SD, SMP/MTs, hingga SMA/SMK yang tampak antusias mengikuti pelatihan perdana di pesantren tersebut. Pelatihan yang menghadirkan jurnalis televisi nasional, Moh. Kholidun, S.Pd., sebagai pemateri ini digelar untuk memupuk rasa percaya diri para santri sejak dini.
Meski sempat merasa kurang puas karena teks yang belum sepenuhnya dihafal, intonasi yang perlu disesuaikan, hingga tangan yang sempat gemetar saat maju ke depan, siswi MTs YPM 1 Wonoayu ini tetap memetik pelajaran berharga. Santriwati yang baru satu bulan mengaji di ponpes tersebut dan sedang menempuh hafalan Al-Qur’an Juz 29 itu memiliki harapan besar untuk masa depannya.
“Harapannya ya bisa menjadi lebih baik lagi, bisa MC di acara internasional, insyaallah,” pungkas Salma.
Dalam sesi penyampaian materi, Moh. Kholidun menjelaskan bahwa membawakan kegiatan Islami seperti Maulid Nabi membutuhkan pembawaan yang tenang, sopan, dan penuh penghormatan. Menurutnya, hal mendasar yang harus diperhatikan adalah penampilan dan etika, di mana pemandu acara wajib mengenakan busana muslim yang rapi dan menutup aurat, serta menjaga sikap tubuh tegap namun tetap rendah hati.
Selain penampilan, penguasaan bahasa dan istilah Islami juga menjadi kunci utama. Kholid menegaskan pentingnya fasih memfasihkan lafal salam, hamdalah, shalawat, hingga ayat Al-Qur’an, serta memberikan sapaan penghormatan (ta’dzim) yang sesuai kepada para ulama dan penceramah. Pemahaman terhadap susunan acara (rundown) juga tak kalah krusial, terutama dalam mengonfirmasi nama pengisi acara beserta gelarnya dan mengelola durasi agar tidak berlarut-larut.
Tak lupa, ia mengingatkan para peserta untuk senantiasa mengondisikan suasana acara agar tetap khidmat. “Sesuaikan nada suara agar teduh, hangat, dan mengagungkan nama Allah SWT serta Rasulullah SAW. Buat juga kalimat jembatan (bridging) yang relevan antar-sesi, misalnya menyambungkan makna ayat yang baru dibacakan dengan tema acara hari itu,” ujar Kholid saat memberikan bimbingan kepada para santri. (Fm Kholid).