Sambut HSN 2026, Siswa MTs YPM 1 Wonoayu Buat Mozaik Peta Raksasa 55 Meter Persegi dari 11.000 Daun Harapan
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026, MTs YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo, menggelar aksi kreasi membanggakan bertajuk “Dari Santri untuk Negeri”. Sebanyak 500 siswa dan guru berkolaborasi merangkai mozaik Peta Raksasa Indonesia seluas 55 meter persegi yang terbuat dari 11.000 daun kering berisi doa dan harapan untuk NKRI.
Mozaik Peta Indonesia berukuran 5 x 11 meter tersebut dibentuk dari rangkaian daun-daun kering yang dibawa langsung oleh para siswa dari lingkungan sekitar rumah mereka. Setiap peserta menuliskan 5 hingga 10 pesan harapan pada lembaran daun sebelum ditempelkan pada peta.
Koordinator Kegiatan, Tri Wahyuni, S.Ag., M.M., mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas terselesaikannya karya monumental para santri ini.
”Alhamdulillah terselesaikan 11.000 doa dan harapan untuk NKRI dalam mozaik Peta Raksasa 55 meter persegi karya siswa MTs YPM 1 Wonoayu dalam peringatan HSN 2026. Ini adalah wujud nyata ‘Dari Santri untuk Negeri’,” ujar Tri Wahyuni, Rabu (21/10/2026).
Tri menambahkan, aksi ini memuat pesan moral yang mendalam. Penggunaan daun kering melambangkan kesederhanaan santri sekaligus simbol eratnya persatuan dalam mempertahankan NKRI.
”Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bentuk cinta NKRI dengan mengenalkan siswa pada kepulauan Nusantara. Selain itu, kegiatan ini menunjukkan kepedulian santri terhadap penghijauan hutan, sekaligus menjadi penegasan harapan kepada pemerintah untuk menangani secara serius isu kebakaran hutan di beberapa pulau. Selamat Hari Santri 2026, Santri Sehat Indonesia Kuat,” tegasnya.
Kepala MTs YPM 1 Wonoayu, Suhardi, M.Pd., menjelaskan bahwa selain mengasah kreativitas, kegiatan ini dirancang dengan dua tujuan utama, yaitu mengenalkan geografi NKRI dan melatih kepedulian lingkungan sejak dini.
”Tujuan utamanya adalah mengenalkan wilayah NKRI agar anak-anak semakin cinta tanah air. Anak-anak diminta mengekspresikan keinginannya terhadap Indonesia ke depan, menjadi negara yang damai, makmur, baldatun toyyibatun warabbun ghafur,” kata Suhardi.
Menurut Suhardi, pembiasaan menjaga lingkungan dari hal kecil seperti memanfaatkan sampah daun kering, akan membentuk karakter calon pimpinan masa depan yang peduli akan kelestarian alam dan kesehatan masyarakat.
Aksi penempelan daun harapan ini disambut antusias oleh para santri. Nava Adi Safitri, siswi kelas 7A, mengungkapkan harapannya agar isu lingkungan dan sosial di Indonesia segera teratasi.
”Saya menulis, ‘Semoga Indonesia akan segera pulih kembali, asap kerikil akan hilang, dan Indonesia menjadi negara yang tertib, jauh dari korupsi.’ Karena melihat kondisi sekarang dengan asap yang menebal dan korupsi di mana-mana, saya terinspirasi menjadikan itu sebagai harapan di Hari Santri ini,” ungkap Nava.
Sementara itu, Ken, seorang siswi kelas 9A turut menyuarakan aspirasinya terkait dunia pendidikan dan literasi di Indonesia.
”Saya menulis agar harga buku di Indonesia bisa lebih ramah untuk kantong pelajar. Menurut saya minat literasi kita tidak rendah, hanya saja harga buku di Indonesia masih lumayan mahal,” tuturnya terharu karena bisa menyuarakan pendapatnya.
Melalui karya mozaik 11.000 daun harapan ini, keluarga besar MTs YPM 1 Wonoayu berharap para santri tidak hanya teguh dalam nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme yang kuat serta peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan bangsa. (Kholid).