Usai Ibadah Umrah, 38 Jemaah Ar Roudloh Global Tour & Travel Kembali ke Tanah Air dengan Harapan Mabrur
Jeddah (kalamnusantara.com) — Rasa haru dan sedih bercampur bahagia menyelimuti keberangkatan 38 jemaah umrah Ar Roudloh Global Tour & Travel di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, pada Selasa (3/11/2026). Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci sejak keberangkatan mereka pada 24 Oktober 2026, rombongan dijadwalkan mendarat di Tanah Air melalui Bandara Juanda, Sidoarjo, pada Rabu (4/11/2026).
Mutawif Ar Roudloh Global Tour & Travel, Ustaz Fahrul Asnar, mengingatkan agar kesedihan karena harus meninggalkan Kota Suci Makkah dan Madinah dijunjung tinggi sebagai bahan bakar semangat baru, dalam meningkatkan ketaatan di kampung halaman.
Di hadapan jemaah, Ustaz Fahrul Asnar menekankan pentingnya senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Menurutnya, beribadah di Makkah dan Madinah merupakan nikmat serta panggilan istimewa yang tidak semua orang dapatkan.
“Alhamdulillah, Allah masih memberikan kita kesempatan dan nikmat iman sehingga kita dalam keadaan sehat walafiat. Tidak semua orang Allah izinkan atau panggil untuk beribadah di Tanah Suci. Banyak di luar sana yang berharta melimpah, namun belum Allah izinkan untuk melangkahkan kaki ke sini. Sebaliknya, panjenengan sedoyo yang Allah izinkan, patut banyak-banyak bersyukur,” tutur Ustaz Fahrul.
Ia juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an mengenai kewajiban bersyukur, di mana Allah berjanji akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur, serta mengingatkan pedihnya azab bagi mereka yang mengufukari nikmat.
Perjalanan ibadah umrah menyimpan keutamaan yang sangat besar. Ustaz Fahrul mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa, ibadah umrah yang diterima dapat membersihkan dosa-dosa jemaah bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.
Kesadaran akan ampunan tersebut, hendaknya membakar semangat para jemaah untuk menjaga kebersihan diri dan menjauhi maksiat sekembalinya ke Indonesia.
“Rasa berat hati meninggalkan Makkah itu wajar. Rasulullah SAW dulu juga sangat mencintai Kota Makkah dan berat saat harus meninggalkannya untuk berhijrah. Namun, jadikan momen kepulangan ini untuk makin giat beribadah. Jangan sampai ketaatan kita berkurang setelah keluar dari Kota Makkah dan Madinah,” tegasnya.
Ustaz Fahrul juga menyemangati jemaah yang masih rindu dan berharap bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa rezeki sepenuhnya datang dari Allah SWT, dan setiap niat baik yang ditanamkan akan membukakan jalan.
“Selagi kita punya niat yang tinggi untuk kembali beribadah, insyaallah pasti ada saja jalannya. Lelahnya kita selama di Makkah dan Madinah insyaallah menjadi lillah dan membuahkan pahala di sisi Allah SWT,” pungkasnya.
Kepulangan 38 jemaah ini diiringi doa agar seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalankan mendapat predikat umrah yang mabrur dan mabruroh, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitar di Tanah Air.
Perasaan emosional juga dirasakan langsung oleh para jemaah yang menuntaskan ibadahnya. Salah seorang jemaah, Widya Sulistyawati, mengaku merasa waktu di Tanah Suci berlalu begitu cepat. Ia merasa ibadahnya masih perlu ditingkatkan mengingat banyaknya dosa yang ingin dimohonkan ampunan.
”Rasa-rasanya masih kurang untuk beribadah karena merasa dosa masih banyak, tapi waktu sudah begitu cepat menuntut kita kembali ke Tanah Air. Meski berat, kita harus kembali karena ada keluarga yang merindukan kita dan kita pun merindukan mereka,” ungkap Widya.
Widya membagikan wujud syukurnya yang mendalam saat diberikan kesempatan menunaikan salat dan berdoa di Hijir Ismail. Momen sujud lama di tempat berkaromah tersebut membuat air matanya tak kuasa menetes. Ia juga bersyukur diberikan kesehatan dan tidak mengalami batuk meskipun harus beradaptasi dengan cuaca yang berbeda.
”Semoga ke depan bisa menunaikan ibadah umrah kembali. Harapannya, semua doa yang dipanjatkan di sana dikabulkan Allah SWT, anak dan pasangan kelak bisa ikut umrah, serta kita bersama teman-teman satu travel bisa kembali lagi ke Tanah Suci menjadi pribadi yang lebih baik atau mabruroh,” harapnya.
Senada dengan Widya, jemaah lainnya, Ika Hariyati, menuturkan pengalamannya yang menjalani umrah untuk pertama kalinya. Ika merasa ibadah yang dijalankannya masih perlu dibenahi agar lebih sempurna.
”Karena ini pengalaman pertama kali, rasanya ibadah masih kurang sempurna dan ingin sekali dibenahi. Ke depan, saya sangat berkeinginan untuk bisa kembali lagi ke Tanah Suci bersama keluarga besar,” ujar Ika. (Kholid).