Mahasiswa UMSIDA Ukir Prestasi, Kayla Fadhila Perdana Sabet Juara 1 Publik Speaking Tingkat Universitas
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Jelang kelulusan dan masa yudisium, Kayla Fadhila Perdana, mahasiswa program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) angkatan 2025 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMSIDA, mengukir prestasi membanggakan. Kayla berhasil meraih juara pertama dalam Online Video Public Speaking Competition kategori Bahasa Inggris tingkat universitas.
Kompetisi ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian international workshop bertajuk “Unlock Your Public Speaking: Master the Art of Being Heard”. Acara tersebut digelar oleh Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Adi Buana Surabaya pada 24 Juli 2026 lalu.
Kayla mengaku terkejut sekaligus tidak menyangka namanya keluar sebagai pemenang utama dalam ajang tersebut.
“Jujur saya sebenarnya merasa kaget, nggak nyangka aja tiba-tiba waktu diumumin kok saya yang menang,” ujar Kayla dalam siaran pers yang diterima kalamnusantara.com, Kamis (20/8/2026).
Bagi Kayla, kemenangan ini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga sebelum resmi melepaskan statusnya sebagai mahasiswa Umsida. “Saya senang juga karena bisa jadi pengalaman saya sebagai mahasiswa UMSIDA sebelum lulus,” tambahnya.
Langkah Kayla dalam mengikuti kompetisi ini bermula dari dorongan dan tawaran Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMSIDA. Meski sempat ragu di awal, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengambil peluang tersebut sebagai sarana mengembangkan potensi diri.
Latar belakangnya yang juga berprofesi sebagai seorang guru menjadi salah satu motivasi kuat. Menurutnya, keterampilan berbicara di depan umum sangat linear dan krusial dalam menunjang profesinya saat mengajar.
“Saya juga sekarang bekerja sebagai guru, jelas butuh cara public speaking yang bagus saat nanti menjelaskan materi ke siswa,” jelasnya.
Selain untuk menunjang karir, ajang ini dijadikan momentum untuk keluar dari zona nyaman. Selama prosesnya, peserta dibekali materi melalui webinar internasional. Kayla memanfaatkan materi tersebut untuk menyusun outline agar penyampaian video kompetisinya tetap terstruktur.
Meski begitu, ia tidak menampik bahwa tantangan terbesar yang dihadapi berasal dari keraguan internal terkait kepercayaan diri.
“Tantangan terbesar sebenarnya kepercayaan diri aja sih. Lebih ke mikir kesan orang lain waktu udah lihat hasil kompetisinya, cuma akhirnya yaudah pede dan berani aja dulu,” ungkapnya.
Berdasarkan pengalamannya, Kayla menyoroti betapa pentingnya penguasaan public speaking dan bahasa Inggris bagi kalangan mahasiswa. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam perkuliahan sehari-hari, seperti presentasi tugas hingga menghadapi sidang skripsi.
Ia menambahkan bahwa bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memberikan nilai tambah yang besar. Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut salah atau menunggu sempurna untuk mulai berbicara.
Mengakhiri ceritanya, Kayla memberikan pesan inspiratif bagi sesama mahasiswa agar tidak ragu mengambil setiap kesempatan yang ada. Bagi Kayla, keberanian untuk mencoba jauh lebih berharga daripada hasil akhir.
“Pengalaman itu yang paling penting, mau pada akhirnya kita menang atau kalah, anggap aja itu bonus. Like what Coldplay said, if you never try you never know,” pungkasnya. (Kholid).