Rais Aam PBNU Terpilih Paparkan Tiga Pijakan Al-Qur’an untuk Bangkitkan Ekonomi Rakyat
Jombang (kalamnusantara.com) — Di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, para menteri Kabinet Merah Putih, Gubernur Jawa Timur, serta barisan kiai sepuh seperti KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Rais Aam PBNU Terpilih KH Miftachul Akhyar menekankan bahwa penguatan ekonomi keumatan menjadi fokus utama Nahdlatul Ulama dalam memasuki abad keduanya.
Hal tersebut disampaikan Kiai Miftachul Akhyar dalam penutupan Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026). Ia menyoroti kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi ekonomi yang rentan.
“Dalam mengawali atau persiapan kita untuk melangkah di abad kedua Nahdlatul Ulama ini, ada tiga ayat yang merupakan sebagai dasar, pijakan kita untuk mengembangkan terutama di bidang-bidang ekonomi yang saat ini memang aktsaru ahli Indonesia, aktsaru sya’bil Indunisiyyiin itu minal fuqara’ wal masakin,” tegas Kiai Miftachul.
Untuk menjawab tantangan kemiskinan tersebut, Kiai Miftachul merumuskan tiga landasan Al-Qur’an sebagai dasar program kerja NU ke depan:
Tugas Kekhalifahan (QS. Al-Baqarah: 30)
“Bahwa sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan khalifah di permukaan bumi ini. Kita mengartikan secara bebas khalifah itu siapa? Yang ngurus bumi ini. Yang membuat peraturan, tata tertib agar kehidupan menjadi tertib, ya. Tidak ada orang kaya yang menganiaya, menzalimi si miskin, begitu juga sebaliknya. Sehingga dengan tandzim yang terhimpun, terpendam di dalam ayat ini, terjadilah masyarakat yang munaddham, yang teratur, yang semua diselesaikan dengan hal yang penuh dengan ketertiban.”
Mandat Pemakmuran Bumi (QS. Hud: 61)
“Allahlah yang menciptakan kalian, hai manusia, yang khalifatullah fil ardi tadi. wasta’marakum Allah memerintahkan kalian menjadi memakmurkan bumi ini. Pemakmuran bumi ini, kita mengerahkan segenap kekuatan otak kita, pengetahuan kita. Semua kita kerahkan untuk kita lahirkan kemanfaatan-kemanfaatan, kemaslahatan untuk umat secara keseluruhan. Termasuk kita menghijaukan kembali sawah ladang kita, menghijaukan kembali gunung-gunung yang sudah gundul, bahkan menjadi presiden pun ini salah satu bentuk tugas pemakmuran bumi ini.”
Muara Nilai Ibadah (QS. Az-Zariyat: 56)
“Aku tidak menciptakan bangsa jin dan bangsa manusia, semua berakibat, lam ini lam akibat, semua berakibat ibadah. Jangan sampai apa yang kita lakukan, kita melangkah tanpa ada nilai ibadah. Jangan sampai kita membangun dengan pembangunan yang luar biasa, megah, tanpa ada nilai ibadah. Semua yang kita lakukan harus bernilai. Inilah tiga ayat menjadi dasar nanti kita upayakan sebagai program di awal abad yang kedua ini, ya, untuk bagaimana Nahdlatul Ulama betul-betul sejahtera ekonominya.”
KH. Miftachul Akhyar menyampaikan optimismenya bahwa sektor ekonomi keumatan NU akan menyusul keberhasilan sektor pendidikan dan kesehatan. Ia pun berharap sinergi antara PBNU dan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo terus terjalin demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. (Kholid).
Foto: tangkapan layar youtube sekretariat presiden