Harga Tepung Terigu Melonjak 25 Persen, Pengusaha Tepung Bumbu Crispy di Sidoarjo Menjerit
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Kenaikan harga bahan baku impor mulai mengikis margin para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah. Salah satunya dirasakan oleh Rini, warga Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, yang menggantungkan dapurnya dari usaha produksi tepung bumbu crispy.
Harga tepung terigu yang menjadi bahan baku utamanya meroket tajam hingga 25 persen. Jika sebelumnya satu sak tepung terigu dibanderol Rp160.000, kini harganya sudah menembus angka Rp200.000 per sak.
“Sebelumnya harga tepung terigu itu Rp160 ribu per sak, sekarang sudah naik sampai Rp200 ribu. Kenaikannya sekitar 25 persen,” keluh Rini saat ditemui mengenai lonjakan harga bahan baku tersebut, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, kenaikan signifikan ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni krisis cuaca ekstrem dan gejolak nilai tukar mata uang. Cuaca ekstrem yang melanda negara-negara produsen sekaligus pemasok gandum utama seperti Amerika Serikat, Ukraina, Australia, dan Rusia telah menyebabkan gagal panen massal. Imbasnya, stok gandum dunia menipis dan mendorong lonjakan harga ekspor, yang makin diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Informasinya karena cuaca ekstrem di negara asal impor seperti AS, Ukraina, Australia, dan Rusia, jadi banyak yang gagal panen dan stoknya terbatas. Ditambah lagi nilai tukar dolar yang sedang naik,” jelasnya.
Lonjakan harga bahan baku ini membawa dampak ganda yang sangat memberatkan operasional usaha Rini. Dengan kapasitas produksi yang mencapai 5 ton per minggu atau setara 20 ton per bulan, ia terpaksa harus menambah modal usaha dalam jumlah signifikan demi menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku.
“Kebutuhan produksi saya lumayan besar, sekitar 5 ton per minggu atau 20 ton per bulan. Dengan kenaikan harga ini, otomatis saya harus menambah modal usaha yang tidak sedikit hanya untuk beli tepung terigu,” ungkapnya.
Di sisi lain, menaikkan harga jual produk ke pasar bukan menjadi pilihan yang bijak saat ini. Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu, Rini menyiasatinya dengan mengurangi isi kemasan produk tepung bumbu crispy miliknya agar harganya tetap stabil dan terjangkau oleh konsumen.
“Mau menaikkan harga jual ke konsumen itu susah sekali karena daya beli masyarakat lagi turun. Jadi solusinya saya memilih untuk mengurangi isi kemasannya sedikit, supaya harga jualnya tidak naik dan tetap terjangkau pelanggan,” tutur Rini.
Menghadapi tekanan ekonomi tersebut, Rini menggantungkan harapan besar kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan konkret. Ia mendesak pemerintah untuk segera menambah kuota impor gandum serta menjajaki negara-negara produsen alternatif guna menstabilkan pasokan dan harga di dalam negeri.
“Kami sangat berharap pemerintah bisa menambah kuota impor gandum dan mencari negara produsen lain selain negara yang biasa diimpor. Supaya stoknya aman dan harganya bisa turun lagi,” kata Rini.
Tak hanya itu, Rini juga mengharapkan adanya bantuan berupa penyaluran subsidi bahan baku terigu khusus bagi para pelaku UMKM agar usaha seperti miliknya dapat bertahan di tengah ketidakpastian harga pasar.
“Kalau memungkinkan, kami para pengusaha ini dibantu dengan penyaluran subsidi bahan baku tepung terigu. Bantuan subsidi itu akan sangat membantu kami untuk bertahan di situasi sulit seperti sekarang,” pungkasnya. (Sukisno / Kholid).