Jemaah Umrah Ar Roudloh Global Diajak Menggali Jejak Sirah di Saqifah Bani Sa’idah: Tangisan Abu Bakar dan Detik-Detik Terakhir Rasulullah SAW
Madinah (kalamnusantara.com) — Perjalanan ziarah jemaah umrah Ar Roudloh Global Tour & Travel di Kota Madinah Al-Munawwarah menghadirkan momen spiritual yang mendalam. Di bawah bimbingan Mutawif Ustaz Fahrur Asnar, para jemaah diajak menapaki jejak historis di sekitar Masjid Nabawi, termasuk salah satu situs paling penting dalam sejarah Islam awal, Saqifah Bani Sa’idah.
Ziarah yang dilaksanakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, selepas shalat Ashar ini meliputi sejumlah titik penting di sekitar Masjid Nabawi, seperti Masjid Ghamamah, Masjid Sayyidina Ali, Masjid Sayyidina Abu Bakar, Pemakaman Baqi, serta Saqifah Bani Sa’idah.
“Alhamdulillah, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan selama berada di Kota Madinah Al-Munawwarah,” ujar Ustaz Fahrur Asnar saat menyapa para jemaah di sela-sela kegiatan ziarah.
Saat mendampingi jemaah di lokasi sejarah, Ustaz Fahrur memaparkan kisah berkesan pada tahun 10 Hijriah sekembalinya Rasulullah SAW dari menunaikan ibadah Haji Wada’. Kala itu, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah di Masjid Nabawi dan membacakan Surah An-Nasr sebagai pesan gembira sekaligus isyarat perpisahan.
Namun, di tengah kegembiraan para sahabat atas kabar kemenangan Islam tersebut, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq justru menangis tersedu-sedu.
“Setelah Rasulullah membacakan surah tersebut di dalam khutbahnya, Sayyidina Abu Bakar menangis. Para sahabat bertanya, ‘Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar? Mengapa engkau bersedih? Sedangkan Rasulullah telah menyampaikan kabar yang gembira,'” tutur Ustaz Fahrur menceritakan reaksi para sahabat kala itu.
Ustaz Fahrur melanjutkan, Abu Bakar tidak langsung menjawab melainkan berteriak penuh haru, “Fidaka abi wa ummi ya Rasulullah!” (Aku pertaruhkan ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, wahai Rasulullah).
“Barulah di situ Sayyidina Abu Bakar menjawab pertanyaan para sahabat, ‘Wahai para sahabat, bukankah dengan demikian bahwasanya Rasulullah telah menjalankan tugasnya? Bukankah dengan demikian bahwasanya Rasulullah akan meninggalkan kita?’ Mulai dari jawaban itu, semua para sahabat ikut bersedih. Yang paham makna ketika Rasulullah ingin mengisyaratkan ingin meninggalkan umatnya hanya Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq,” jelas Ustaz Fahrur.
Ustaz Fahrur juga membagikan kisah kedua saat fisik Rasulullah SAW mulai mengalami sakit pusing yang amat berat menjelang akhir hayatnya. Dengan mengikatkan sorban di kepala untuk meredakan rasa sakit, Rasulullah mendatangi para sahabat yang sedang bermusyawarah.
Di hadapan para sahabat, Nabi SAW menyampaikan bahwa jika seseorang diberi pilihan oleh Allah SWT antara menjadi nabi sekaligus raja atau menjadi rasul dan hamba, maka orang tersebut pasti memilih menjadi rasul dan hamba.
“Sayyidina Abu Bakar kembali menangis ketika Rasulullah mengatakan seperti itu,” kata Ustaz Fahrur.
Ketika sahabat lain kebingungan, Abu Bakar menjelaskan makna tersirat di balik ucapan tersebut. “Sayyidina Abu Bakar mengatakan, ‘Wahai sahabat-sahabat, ketahuilah bahwasanya pilihan itu ditujukan kepada Rasulullah SAW.’ Rasulullah memilih pilihan Ar-Rafiqul A’la, yang artinya Teman Yang Maha Tinggi. Bahwasanya Rasulullah sudah mengisyaratkan beliau ingin menghadap kepada Allah SWT,” lanjutnya.
Puncak duka umat Islam pecah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, ketika kabar wafatnya Rasulullah SAW mengguncang seluruh Kota Madinah. Berita duka tersebut membuat banyak sahabat terpukul dan tidak percaya, termasuk Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang sampai mencabut pedangnya.
“Sayyidina Umar tidak percaya bahwasanya Rasulullah telah wafat. Sampai dikatakan di dalam riwayat, Sayyidina Umar langsung mencabut pedangnya dan mengatakan, ‘Barangsiapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat, maka aku akan penggal lidahnya! Demi Allah, Rasulullah itu tidak wafat, Rasulullah hanya menghadap Allah dan nanti akan kembali lagi,'” terang Ustaz Fahrur menggambarkan besarnya rasa cinta Umar kepada Sang Nabi.
Di tengah guncangan jiwa para sahabat, Sayyidina Abu Bakar hadir memberikan ketenangan dan ketegasan akidah.
“Yang hanya bisa menenangkan hati dan pikirannya Sayyidina Umar pada saat itu hanyalah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau mengatakan kepada Sayyidina Umar, ‘Barangsiapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwasanya Muhammad ini adalah seorang hamba yang bisa mati. Akan tetapi yang layak kita sembah itu hanyalah Allah SWT,'” tegas Ustaz Fahrur.
Melengkapi penjelasannya kepada jemaah Ar Roudloh Global Tour & Travel, Ustaz Fahrur menegaskan pentingnya situs Saqifah Bani Sa’idah dalam tonggak kepemimpinan Islam sepeninggal Rasulullah SAW.
“Di tempat ini juga, setelah Rasulullah wafat, Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dibaiat dan dilantik. Kaum Muhajirin dan kaum Anshar bergabung, bersatu, dan bermusyawarah untuk memastikan siapa yang lebih layak untuk menjadi seorang pemimpin. Dan alhamdulillah, yang menggantikan ketika Rasulullah wafat itu adalah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq,” pungkas Ustaz Fahrur menutup bimbingannya di lokasi Saqifah Bani Sa’idah. (Kholid).