Ratusan Santri Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG, Kemenag Siapkan Opsi Dapur Mandiri Pesantren
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Sidoarjo mengalami gejala keracunan massal, diduga usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026). Sebanyak 1.010 porsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah dibagikan kepada siswa-siswi jenjang MTs dan MA.
Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, menjelaskan bahwa pesantrennya telah menerima program MBG selama kurang lebih tiga bulan. Skema pengiriman makanan pada hari kejadian berjalan seperti biasa.
“Makanan biasanya dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB,” ujar KH Abdul Wachid Harun, Jumat (4/9/2026). Waktu pembagian tersebut disesuaikan dengan jadwal kegiatan pendidikan madrasah yang dimulai pukul 13.00 WIB.
Menu MBG yang dikonsumsi santri hari itu terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
Beberapa jam setelah makan siang, sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengeluhkan sakit pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas. Pengurus pesantren langsung membawa para korban ke bidan terdekat di Desa Putat untuk penanganan awal.
Namun, jumlah santri yang bergejala terus membengkak hingga ratusan orang pada pukul 16.30 WIB. Menjelang Magrib, pengurus pesantren menghubungi layanan ambulans untuk mengevakuasi para santri ke 9 rumah sakit rujukan. Keluhan kesehatan dilaporkan terus bermunculan secara bertahap sejak Selasa malam hingga Rabu pagi dan siang.
Kemenag Usulkan Dapur Mandiri untuk Pesantren
Menanggapi insiden tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat memberikan bantuan santunan serta mengawal penanganan medis para santri.
“Kementerian Agama memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi dan hasil pemeriksaan secara menyeluruh mengenai penyebab kejadian tersebut,” tulis keterangan resmi Kemenag.
Di sisi lain, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa perluasan program MBG ke lembaga pendidikan keagamaan akan terus didorong bersama Badan Gizi Nasional (BGN). Saat ini, baru 42 persen pesantren sasaran yang terjangkau.
“Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah. Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN yang baru. Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat makan gratis dari MBG,” tegas Wamenag.
Sebagai solusi dan langkah antisipasi, Wamenag menjelaskan adanya kebijakan yang mengizinkan pesantren dengan populasi sekitar 1.000 santri untuk mengelola dapur MBG secara mandiri. Pesantren tidak wajib membangun fasilitas baru, melainkan mengoptimalkan dapur yang ada dengan meningkatkan standar kebersihan.
“Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren,” jelasnya. (Kholid).