Dari Sekolah dengan Keterbatasan Teknologi, SLCC PGRI Sidoarjo Buktikan Kemerdekaan Pendidikan Bisa Dimulai dari Mana Saja
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia memperingati hari kemerdekaan sebagai momentum bersejarah terbebas dari belenggu penjajahan. Namun, makna kemerdekaan sejatinya tidak berhenti pada terbebasnya bangsa ini dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga harus hadir dalam setiap ruang kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
Kemerdekaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap murid untuk belajar, berkembang, dan mengenal dunia tanpa batas. Begitu pula bagi para guru, kemerdekaan menjadi ruang untuk terus berinovasi menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi generasi masa depan.
Semangat itulah yang diwujudkan oleh tim Smart Learning Character Center (SLCC) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sidoarjo. Mereka memilih menembus keterbatasan teknologi untuk menjemput kemerdekaan belajar di SDN Gebang 2, Kecamatan Sidoarjo.
Di tengah kondisi keterbatasan akses internet yang tersedia, tim SLCC PGRI Sidoarjo tidak menjadikan hambatan tersebut sebagai alasan untuk berhenti menghadirkan inovasi. Melalui kegiatan edukasi berbasis praktik, para murid diperkenalkan dengan materi Koding Unplugged, sebuah metode pembelajaran pemrograman tanpa bergantung pada perangkat komputer maupun jaringan internet.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026 tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa. Mereka diajak memahami konsep dasar berpikir komputasional melalui aktivitas sederhana, menyenangkan, dan penuh kreativitas. Dari kegiatan tersebut, murid belajar tentang logika, pemecahan masalah, kerja sama, serta cara berpikir sistematis yang menjadi bekal penting menghadapi era digital.

Ketua SLCC PGRI Kabupaten Sidoarjo, Emil Mukhtar Efendi, menegaskan bahwa keterbatasan teknologi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas.
“Ini menjadi bukti bahwa PGRI turut memerdekakan pendidikan. Kemerdekaan belajar tidak selalu harus menunggu fasilitas teknologi yang lengkap. Dengan keterbatasan teknologi yang ada, guru tetap bisa menghadirkan pembelajaran inovatif agar setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mengenal dunia digital,” ujar Emil.
Menurutnya, semangat utama SLCC PGRI bukan sekadar mengenalkan teknologi, tetapi membangun karakter guru dan murid agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Agenda inspiratif ini mendapat sambutan positif dari Ketua PGRI Kabupaten Sidoarjo, Moh. Shobirin, M.Pd. Dukungan tersebut menjadi penguat bahwa gerakan transformasi pendidikan harus terus dilakukan bersama, termasuk melalui inovasi pembelajaran yang menyentuh langsung kebutuhan sekolah.
Bagi SLCC PGRI Sidoarjo, kemerdekaan pendidikan bukan hanya tentang menyediakan teknologi canggih, tetapi juga tentang menghadirkan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh anak bangsa. Sebab, anak-anak di pelosok maupun perkotaan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Dari SDN Gebang 2, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: keterbatasan bukanlah penghalang untuk maju. Ketika guru bergerak dengan hati dan kepedulian, kemerdekaan belajar dapat hadir di mana pun berada.
Karena sejatinya, memerdekakan pendidikan berarti menyalakan harapan. Dan dari ruang-ruang kelas sederhana itulah, masa depan Indonesia sedang dipersiapkan. (red).