Semarak Barikan di Arum Ndalu Kepunten, Membakar Semangat Kemerdekaan lewat Doa, Tumpengan, dan Gotong Royong
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Ruas Jalan Arum Ndalu di RT 04 RW 02 Desa Kepunten, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, berubah menjadi lautan warga pada Minggu malam (16/8/2026). Diiringi semangat kebersamaan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pekikan “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Allahu Akbar!” bergema membelah malam sesaat setelah doa bersama usai digelar.
Warga dari RT 04 dan sebagian warga RT 06 RW 02 tumplek blek memadati jalanan desa yang disulap menjadi tempat silaturahmi. Antusiasme terpancar dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari balita, remaja, hingga para lansia yang khusyuk mengikuti jalannya tradisi tahunan tersebut.
Tokoh agama setempat, Muhammad Saiful, mengapresiasi tinggi partisipasi dan keguyuban warga yang bahu-membahu menyukseskan acara ini.
Saiful menggarisbawahi bahwa tradisi Barikan bukan sekadar rutinitas perayaan seremonial, melainkan sarana memperkuat rasa cinta tanah air dan menjaga keutuhan NKRI.
“Bagi para sepuh dan orang tua, inti utama Barikan adalah memanjatkan doa terbaik bagi para pejuang dan syuhada yang telah mengorbankan jiwa raga demi Proklamasi Kemerdekaan. Nikmat kebebasan dan pembangunan hari ini merupakan buah dari perjuangan mereka di masa lalu,” ujarnya.
Saiful menjelaskan, kehadiran anak-anak dan remaja dalam malam Barikan menjadi media pendidikan karakter yang nyata. Harapannya, generasi penerus memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diraih secara instan atau “langsung enak begitu saja”, melainkan melalui tetesan keringat dan darah para pendahulu.
Meski kini tidak lagi mengangkat senjata di medan perang fisik, masyarakat diajak berkontribusi mengisi kemerdekaan dengan merawat tradisi mendoakan para pendahulu sesuai syariat agama, yang dirangkaikan dengan aksi bersedekah.

Suasana hangat kian terasa saat deretan tumpeng mulai dibuka dan dinikmati bersama. Menurut Saiful, tradisi tumpengan dan makan bersama (sedekah) ini sarat akan simbolisme pertahanan sosial agar warga tidak mudah terpecah belah oleh isu-isu yang merusak persatuan.
“Cara kita menghargai perjuangan para pahlawan adalah dengan mengenang jasa mereka, mengisi kemerdekaan melalui pembangunan, serta bersedekah sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah keikhlasan, tanpa ada paksaan sedikit pun,” tegas Saiful.
Di samping mempererat kebersamaan internal warga, malam perayaan HUT ke-81 RI di Jalan Arum Ndalu Kepunten pun ditutup dengan kehangatan dan rasa syukur, meninggalkan pesan mendalam bahwa kekuatan bangsa Indonesia sejatinya berakar dari kerukunan warga di tingkat akar rumput. (Kholid).