Terapkan Ilmu Pelatihan di Kelas, Pengawas Korwil Sedati Dorong Guru Jadi Kreator Konten Pembelajaran
Sidoarjo (kalamnusantara.com) – Pengawas Kordinator Wilayah (Korwil) Sedati, Wulan Ari Handayani, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya aksi nyata dari setiap kegiatan pengembangan diri yang diikuti oleh para pendidik. Menurutnya, ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, baik secara daring maupun luring, wajib diterapkan langsung di kelas serta disebarluaskan kepada rekan sejawat.
Pesan tegas tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 01 dan 02 Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Sabtu (5/9/2026). Acara yang digelar di SD Hang Tuah 10 Sedati ini mengusung tema “Peningkatan Kinerja Guru melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Tahun 2026” dan dibekali dengan materi konten kreator serta pembinaan pegawai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo.
Dalam arahannya, Wulan menyampaikan sejumlah rencana tindak lanjut yang harus segera direalisasikan oleh para guru usai mengikuti pelatihan. Pertama, guru diminta untuk langsung mengimplementasikan ilmu baru dalam proses pembelajaran mulai hari Senin, sekaligus terus memperbaiki pola mengajar berdasarkan hasil refleksi diri.
Selain penerapan di kelas, Wulan mengingatkan pentingnya kolaborasi antar pendidik melalui komunitas belajar di sekolah. Berbagai praktik baik, seperti pembelajaran berdiferensiasi maupun problem-based learning, harus ditularkan kepada guru-guru lain demi meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
“Ilmu dan keterampilan yang Bapak, Ibu peroleh selama pelatihan harus langsung diterapkan di kelas, kemudian dibagikan kepada rekan sejawat melalui komunitas belajar di sekolah. Dengan begitu, dampak positif yang dihasilkan bisa dirasakan dalam skala yang lebih luas,” tegas Wulan.
Tidak hanya itu, lanjut Wulan, seiring dengan adanya materi konten kreator dalam kegiatan ini, para guru juga didorong untuk aktif mendokumentasikan proses pembelajaran di kelas dan mempublikasikannya ke media sosial seperti Instagram atau TikTok. Wulan menekankan agar konten yang dibuat berfokus pada aktivitas siswa, bukan pada saat guru berceramah.
“Dokumentasikan momen-momen saat siswa aktif belajar, seperti kegiatan diskusi, pameran karya, atau presentasi. Buat video singkat sekitar satu menit yang menunjukkan peran guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek yang aktif,” lanjutnya.
Wulan mengajak seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia PKB, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), hingga para guru, untuk terus menjaga komitmen bersama agar rencana tindak lanjut ini benar-benar terwujud secara nyata di lapangan. (Kholid).